Lagi, dan lagi! Waktu terus berjalan, dan sepertinya catatan keabnormalan saya semakin bertambah panjang. Sebenarnya malu juga mengakui keidiotan diri sendiri. Tapi tetap saja, sejarah harus tetap terdokumentasi meski pahit dan getir terasa.
Kalau mau berbicara soal pengalaman cinta, agak ragu juga kalau mesti menjadi informasi publik. Saya menganggap pembicaraan tentang masalah cinta, masih menjadi sesuatu yang sakral. Tidak sembarang orang mampu untuk melakukannya. Tidak sembarang suasana cocok untuk melakukannya. Dan tidak sembarang sinetron persis menggambarkannya. Tapi kali ini saya berpikir berbeda. Bagaimana kalau pengalaman kita ternyata bisa juga dijadikan referensi orang lain untuk bersikap secara benar dan tepat?